Konsultasi Permasalahan Keluarga dan Memberi Solusinya Secara Islami

Konsultasi Keluarga

Para Pembaca yang semoga Allah merahmati.

Rubrik / halaman ini sengaja kami persiapkan untuk para pembaca yang menginginkan konsultasi permasalahan-permasalahan keluarga.

Sebagai Nara Sumber / konsultannya adalah :
1. Al-Ustadz Abu Mundzir Al-Ghifary – Staf Pengajar Ma’had Cepu
2. Al-Ustadz Zul Asri Rusli – Ketua Pelaksana Harian Yayasan / Ma’had Daar El-Iman Padang
3. Al-Ustadz Abu Rifki – Staf Pengajar Ma’had Al-Madinah Karawang
4. Abu Iram Al-Atsary Pengasuh Grup Paviliyun Keluarga

Silahkan anda tulis permasalahan anda pada kolom komentar yang kami sediakan. Semoga bermanfaat

Comments on: "Konsultasi Keluarga" (4)

  1. ika suwandi said:

    Assalamu’alaykum,! saya mau bertanya, baikkah jika seorang laki-laki mau menikahi wanita, tetapi dengan syarat dia(wanita) mau melunasi hutang-hutang laki-laki tersebut!

    • wa’alaykumussallam warahmatullah …

      Syarat seperti itu tidaklah baik dilaksanakan; ditinjau dari beberapa sisi :
      1. keikhlasan dalam hal menikahi si wanita; hal bersyarat semisal ini tentu jauh dari unsur ikhlas.
      2. Lelaki itu pemimpin bagi seorang wanita; tentu saja seharusnya ia bertanggung jawab penuh atas perbuatannya dalam berhutang; dan sama sekali tak ada hubungan tanggung jawab dengan si wanita yang akan dia nikahi ..
      3. Hal semisal ini akan melunturkan wibawa suami dimata istrinya; dan jika sampai keluarga si wanita mengetahui maka tentu akan menjadi sangat tidak baik sekali …

      Namun; seandainya si wanita rela membantu tanpa adanya syarat tersebut tentu ini tak mengapa; karena merupakan sebuah kebaikan; dan 1 hal yang harus di ingat adalah bahwasannya si wanita benar-benar harus ikhlas dan dikemudian hari tak boleh mengungkit-ungkit perkara tersebut..

      semoga berkenan .
      Terima kasih … semoga Allah merahmati anda .

      – Abu Iram Al-Atsary –

    • Bismillah.

      Pertama : Keumuman dalil-dalil yang memerintahkan seseorang untuk menunaikan janji atau kesepakatan. Seperti firman Allah
      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

      Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu (QS Al-Maaidah :1)

      Kedua : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
      أَحَقُّ الشُّرُوْطِ أَنْ تُوْفُوْا بِهِ مَا اسْتَحْلَلْتُمْ بِهِ الْفُرُوْجَ

      “Syarat yang palih berhak untuk ditunaikan adalah persyaratan yang dengannya kalian menghalalkan kemaluan (para wanita)” (HR Al-Bukhari no 2721 dan Muslim no 1418)

      Ketiga : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
      وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

      “Dan kaum muslimin tetap berada diatas persyaratan mereka (tidak menyelishinya-pen), kecuali persyaratan yang mengharamkan perkara yang halal atau menghalalkan perkara yang haram” (HR At-Thirimidzi no 1352 dan Abu Dawud no 3596 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

      Keempat : Hukum asal dalam masalah akad dan transaksi –jika diridhoi oleh kedua belah pihak- adalah mubah hingga ada dalil yang mengaharamkan

      Adapun dalil yang dijadikan hujjah oleh para ulama yang mengharamkan persyaratan ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
      مَنِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنِ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ

      “Barang siapa yang memberi persyaratan yang tidak terdapat di Kitab Allah maka persyaratan itu batil, meskipun ia mempersyaratkan seratus persyaratan” (HR Al-Bukhari no 2155 dan Muslim 1504)

      Dlm hal syarat nikah YANG SELAIN SYARAT WAJIB, perlu diperhatikan sbb:

      Pertama : Persyaratan yang harus ditunaikan, yaitu persayaratan yang manfaatnya dan faedahnya kembali kepada sang wanita. Misalnya sang wanita mempersyaratkan agar sang suami tidak membawanya merantau. Maka wajib bagi sang suami untuk memenuhi dan menunaikan persyaratan ini. Jika sang suami tidak menunaikan syarat ini maka sang wanita berhak untuk membatalkan tali pernikahan. Pendapat ini diriwayatkan dari Umar bin Al-Khottoob, Sa’ad bin Abi Waqqoosh, Mu’aawiyah, dan ‘Amr bin Al-’Aash radhiallahu ‘anhum. (lihat Al-Mughni 7/448)

      Kedua : Persyaratan yang baathil dan membatalkan persyaratan itu sendiri akan tetapi pernikahan tetap sah, seperti jika nikah dengan syarat sang lelaki tidak menafkahi sang wanita, atau sang wanitalah yang memberi nafkah kepadanya, atau ia hanya mendatangi sang wanita di siang hari saja. Dan demikian juga jika sang wanita mepersyaratkan untuk tidak digauli atau agar sang lelaki menjauhinya, atau agar jatah nginapnya ditambah dengan mengambil sebagian jatah istrinya yang lain. Maka seluruh persyaratan ini tidak sah dan batil (lihat Al-Mughni 7/449)

      Ketiga : Persyaratan yang membatalkan akad nikah, seperti pernikahan mut’ah (nikah kontrak sementara setelah itu cerai), atau langsung dicerai setelah nikah, dan nikah syigoor, atau sang lelaki berkata, “Aku menikahi engkau jika ibumu merestui atau si fulan setuju”. (lihat Al-Mughni 7/449)

      Maka dlm permasalahan yg ditanyakan perlu dilihat kondisinya:
      1. Jika lelaki itu melakukan pemaksaan shingga mendholimi si wanita maka pernikahanya sah. Tetapi dia telah berdosa karenanya.
      2. Jika si wanita ikhlas karena ingin membantu dan TANPA ada paksaan maka hal ini tdk mengapa. Dan Alloh maha mengetahui apa yg terlahir dlm hati hambaNya.
      Yang paling baik dan selamat adalah menghindari cara cara spt ini. Wallohua’lam.

  2. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
    mohon penjelasannya ustadz.
    bagaimana sikap ana dalam menghadapi bapak yang mempunyai sifat keras,egois,tidak memperhatikan keluarga?

    bapak ana jauh dari agama,tidak melakukan ketaatan(tidak shalat dll).bapak adalah orang yang berkecimpung dalam kesenian.terakhir bapak memaksa untuk sekolah di pendidikan Guru SD(PGSD).di univ.tersebut banyak penyimpangan syariat islam(ikhtilat dll).sebenarnya ana ingin ke ma’had.

    ana terpaksa mau menuruti permintaannya karena sewaktu ana menolak,darah tinggi bapak kambuh sehingga hampir terkena serangan jantung.

    jazakallahu khair sebelumnya.
    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda; Dan Silahkan Masukkan Komentar / Pertanyaan Anda Disini : Perhatikan adab berikut! Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula. Allah meridhai kalian bila kalian: (1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah Dan Allah membenci kalian bila kalian: (1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim no. 1715) Admin paviliyunkeluarga.wordpress.com berhak untuk tidak memunculkan komentar yang tidak sesuai dengan adab di atas. Perlu anda ketahui: Komentar yang anda kirimkan akan dimoderasi oleh admin terlebih dahulu. Komentar anda yang muncul setelah klik tombol "KIRIM" hanyalah sekedar preview yang hanya muncul di komputer yang anda pakai, namun sebenarnya belum muncul

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: