Konsultasi Permasalahan Keluarga dan Memberi Solusinya Secara Islami

Mengenal Calon Istri

Ta’aruf (Mengenal) Calon istri

Agama islam mengajarkan kepada yang hendak menikah untuk mengenal calon pasangannya (ta’aruf). Seorang pemuda yang hendak melamar wanita hendaknya mencari keterangan tentang jati dirinya melalui seseorang yang mengenal wanita tersebut. Baik tentang biografi, ciri-ciri fisik, akhlak, kepribadian, dan agamanya, atau hal-hal lainnya yang dibutuhkan/penting di ketahui untuk kebahagiaan hidup berumah tangga (maslahat pernikahan). Bisa dengan cara meminta keterangan wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang, seperti istri temannya, ibunya,  saudarinya, atau yang lainnya.

Hendaknya bagi pihak yang dimintai keterangan untuk menjawab dengan objektif, meskipun harus membuka aib wanita tersebut. Hal ini di perbolehkan dan bukanlah termasuk ghibah yang terlarang. Karena Rasulullah pernah menjelaskan aib seseorang ketika memberi nasehat kepada Fathimah binti Qais mengenai Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahm.

            “adapun Abu Jahm, maka dia adalah lelaki yang tidak meletakkan tongkatnya dari pundaknya (yakni: suka memukul wanita). Adapun Mu’awiyah, dia lelaki yang miskin, yang tidak memiliki harta. Maka menikahlah engkau dengan Usamah bin Zaid.” (HR. Muslim)

Adab berbicara dengan  wanita yang hendak dilamarnya

Para ulama menyatakan tentang bolehnya bagi lelaki untuk berbicara calon istri yang hendak dipinang. Akan tetapi tentunya dengan menjaga adab-adab islami seperti:

1. Ada hajat yang mengandung maslahat

2. Tidak khalwat, yaitu berdua-duaan tanpa mahrm, karena Rasullah bersbda:

“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita, kecuali bersam mahram.”  (HR. Al-Bukhari)

3.   Dari balik hijab/tabir (seperti tirai, tembok, atau sesuatu yang bisa menghalangi pandangan dan perjumpaan secara langsung)

Allah berfirman:

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.” (QS. Al-Ahzaab:53)

Apabila para sahabat saja diperintahkan untuk berjilbab, padahal mereka adalah generasi terbaik serta paling suci hatinya, maka generasi-generasi setelah sahabat justru lebih butuh kepada jilbab karena lemahnya iman dan ilmu mereka. 4.  Percakapan itu tidak sampai membangkitkan syahwat. Apakah itu karena lembut dan merdunya suara wanita, berlama-lama dalam berbicara yang tidak ada maslahat, dan lain sebagainya.

Allah berfirman:

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada dalam penyakit hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al-Ahzaab:32)

Begitulah ta’aruf syar’i yang islami. Indah, bukan?

Dengan ta’aruf syar’i maka akan lebih menjaga kehormatan, menjaga pandangan, dan kesucian hatinya.

SEKILAS Tentang Pacaran

Pacaran adalah haram dalam agama islam ini. Didalamnya banyak kerusakan bagi pribadi atau agama seseorang. Didalamnya juga banyak perbuatan-perbuatan mungkar yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti: ikhtilath (bercampur-baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram), khalwat, pandang-memandang, bersentuhan, dan lain sebagainya.

Padahal Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa:32)

Rasulullah juga bersabda:

“Sungguh, jika kepala salah seorang diantara kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”  (HR. Ath-Thabari dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar, lihat ash Shahihah no. 226)

Wahai pemuda, setelah engkau mengetahui bahwa pacaran adalah perbuatan yang dikecam oleh Allah dan Rasul-Nya dan termasuk dalam perbuatan nista, maka apakah engkau masih memilih pacaran daripada ta’aruf syar’i?

 

Wallohulmusta’an.

Di salin Dari grup Paviliyun Keluarga

Di Arsipakan : PaviliyunKeluarga.wordpress.com

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda; Dan Silahkan Masukkan Komentar / Pertanyaan Anda Disini : Perhatikan adab berikut! Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula. Allah meridhai kalian bila kalian: (1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah Dan Allah membenci kalian bila kalian: (1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim no. 1715) Admin paviliyunkeluarga.wordpress.com berhak untuk tidak memunculkan komentar yang tidak sesuai dengan adab di atas. Perlu anda ketahui: Komentar yang anda kirimkan akan dimoderasi oleh admin terlebih dahulu. Komentar anda yang muncul setelah klik tombol "KIRIM" hanyalah sekedar preview yang hanya muncul di komputer yang anda pakai, namun sebenarnya belum muncul

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: