Konsultasi Permasalahan Keluarga dan Memberi Solusinya Secara Islami

 PASAL TENTANG

TAUHID ASMAA’ WA SHIFAAT

[3]     Semua yang terdapat dalam Al Qur’an atau telah shahih yang datang dari Al Musthafa tentang sifat-sifat Dzat Yang Maha Pemurah wajib untuk diimani dan mengambilnya dengan pasrah dan menerima. Tidak mencoba memberikan bantahan, takwilan (penyimpangan makna), penyerupaan, dan tidak pula permisalan.

[4]     Dan apa yang masih terdapat ketidakjelasan maka wajib untuk menetapkannya sebagaimana lafalnya. Tidak terdalam-dalam di dalam membahas maknanya. Kita menyerahkan ilmunya kepada yang mengucapkan. Kita menjadikan tanggung jawab dari perkataan itu kepada orang yang menukilkan dalam rangka mengikuti metode orang-orang yang kokoh ilmunya. Mereka itu adalah orang-orang yang telah Allah puji dalam kitab-Nya yang terang dengan firman-Nya:

“ Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” (QS.Ali Imran:7)

[5]     Allah mencela orang-orang yang mencari-cari takwilan dari ayat-Nya yang bersifat mutasyaabih (samar yang bisa dipahami sesuai dengan kemauan masing-masing-pent):

“ Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesehatan, maka mereka mengikuti sebagian Ayat-ayat  yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. “(Qs. Ali Imran)

Dalam ayat di atas allah menjadikan perbuatan mencari-cari takwil adalah ciri penyimpangan. Juga allah menggandengkan dengan mencari-cari fitnah dalam konteks celaan. Kemudian allah menghalangi orang tersebut dari apa yang ia inginkan, dan mematahkan semangatnya untuk mencapai apa yang dituju. Yang demikian ini terdapat pada firman-Nya:

Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.” (QS. Ali Imran: 7)

 

SYARAH

A.     Pembagian teks-teks yang berisi sifat allah dan jalan yang dilalui oleh masih-masing orang di hadapan ayat ini:

Teks ayat Al-Qur’an dan hadist yang berisi tentang sifat-sifat Allah terbagi menjadi dua bagian : teks yang jelas dan gamblang dan teks yang masih samar-samar.

  • Teks yang jelas adalah yang lafal dan maknanya jelas. Teks yang seperti ini wajib diimani secara lafalnya dan wajib menetapakan maknanya sebagai perkara yang nyata tanpa menolak dan mentakwilnya, tanpa menyerupakan (tasybih) dan memisal-misalkan (tamtsil) karena syari’at telah mengutarakannya. Sehingga wajib mengimani dan menerimanya dengan sebenar-benar penerimaan dan ketundukan.
  • Teks yang masih samar adalah yang maknanya masih belum dikarenakan konteksnya yang masih global, atau karena keterbatasan pemahaman yand ada pada pembacanya. Terhadap teks-teks yang seperti ini wajib menetapkan lafalnya karena syariat telah mendatangkannya dan diam dari membicarakan maknanya, juga tidak mendalam-dalam ketika membahasnya karena masih terdapat padanya permasalahan yang tidak memungkinkan untuk memastikannya. Sehingga kita menyerahkan ilmunya kepada Allah dan Rasulnya.

Cara yang ditempuh manusia dalam menghadapi teks yang masih samar ini ada dua macam:

Cara pertama: cara (metode) yang ditempuh oleh orang-orang yang kokoh ilmunya. Mereka adalah orang-orang yang beriman terhadap ayat yang muhkam dan mutasyaabih, mereka mengatakan:

“semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Mereka tidak berdalam-dalam dalam sesuatu yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk mengetahui dan menguasainya. Yang demikian ini dilakukan dalm rangka mengagungkan Allah dan Rasul-Nya, juga termasuk adab dalam menghadapi teks-teks syari’at. Dan merekalah orang-orang yang dipuji oleh Allah:

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” (Qs. Ali Imran:7)

Cara kedua: cara yang ditemouh oleh orang-orang yang menyimpang. Mereka adalah orang-orang yang mencari-cari ayat mutasyaabih dengan tujuan untuk menyebarkan fitnah (kerancuan-pent) dan menghalangi kaum muslimin dari agama mereka dan jalan yang ditempuh oleh para pendahulu yang shalih (Salafush Shalih). Lalu mereka mereka-reka takwilan dari ayat mutasyaabih untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tidak untuk mendapatkan apa yang Allah dan Rasul-Nya maukan. Mereka membenturkan teks-teks Al-Qur’an dan hadist satu dengan yang lainnya. Mereka melakukan celaan terhadap konteksnya dengan berbagai penentangan dan pengurangn dengan tujuan membuat kaum muslimin ragu terhadap kandungan ayat dan hadist dan agar tidak mendapatkan petunjuk-petunjuk (hidayah) yang ada. Orang-orang yang menempuh cara ini adalah orang-orang yang Allah mencela mereka dalam ayat-Nya:

“adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabih untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari0cari takwilnya melainkan Allah.” (Qs. Ali Imran:7)

 

B.     Penuntasan masalah teks ayat dan hadist yang jelas dan yang samar:

Sesungguhnya masalah jelas atau samar dalam teks-teks syari’at adalah perkara yang relatif. Kaum muslimin berbeda-beda dalam perkara ini sesuai dengan ilmu dan pemahaman yang ada pada mereka. Kadang sebuah teks ayat atau hadist adalah masih samar menurut seseorang sedangkan dihadapan yang lain sudah jelas (wadhih).  Perkara yang wajib ditempuh ketika menjumpai kesamaran adalah mengikuti perkara yang telah diterangkan diatas, yaitu tidak berlarut-larut di dalamnya dan tidak mencari-cari maksudnya dengan tanpa petunjuk dan serampangan.

Adapun dilihat dari sisi asal teks syari’at maka tidak ada padanya-segala puji bagi Allah-perkara yang masih samar tidak ada yang mengetahui maknanya dalam perkara-perkara yang sangat dibutuhkan oleh manusia, baik dalam urusan agamanya maupun urusan dunia. Yang demikian dikarenakanAllah memberikan sifat cahaya yang terang pada Al-Qur’an, jelas bagi seluruh umat manusia, dan pembeda. Allah menurunkannya sebagai penerang segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat. Sifat yang seperti ini mengharuskan tidak adanya kesamaan pada teks-teks syari’at sesuai kenyataan yang ada. Yaitu tidak mungkin ada ayat atau hadist yang tidak bisa diketahui maknanya oleh seorangpun.

C.     Maksud dari penolakan, pentakwilan, penyerupaan, dan permisalan, serta hukun dari masing-masing hal ini:

  • Penolakan (radd): mendustakan dan mengingkari, seperti seseorang yang mengatakan: Allah tidak memiliki tangan baik secara hakekatnya maupun majasi. Yang demikian adalah kekafiran karena merupakan bentuk pendustaan tehadap Allah dan Rasulnya.
  • Takwil: semakna denga tafsir. Yang dimaksud disini adalah menafsirkan teks-teks yang berisi sifat Allah dengan tafsiran yang berbeda dengan yang Allah inginkan dan Rasulnya. Juga berbeda dengan penafsiran para sahabat dan generasi yang mengikuti mereka dengan baik. 

Hukum takwil ada tiga macam:

Pertama: takwilan yang muncul dari ijtihad dan niat yang baik. Sehingga kebenaran telah tampak dihadapannya maka ia akan rujuk dari takwilannya sendiri. Maka orang yang seperti ini akan dimaafkan, karena apa yang ia capai adalah puncak kemampuan yang ada padanya. Allah berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah:286)

Kedua: takwilan yang muncukl dari hawa nafsu dan ta’ashub (fanatik), tetapi takwilannya masih ada sisi benarnya secara bahasa ‘Arab. Maka perbuatan yang seperti ini adalah kefasikan bukan kekafiran. Kecual bila takwilan itu mengandung perendahan dan pelecehan terhadap hak Allah sehingga akan menjadi kafir.

Ketiga: takwilan dari hawa nafsu dan ta’ashub, akan tetapi tidak memiliki sisi kebenaran secara bahasa ‘Arab. Yang demikian ini adalah bentuk kekafiran kerena pada hakekatnya adalah pendustaan dari sisi tidak adanya alasan yang benar dalam mentakwilkannya.

  • Tasybih (Penyerupaan):menetapkan adanya dzat selain Allah yang serupa dengan-Nya dalam perkara yang menjadi kekhususan Allah atau sifat-Nya. Perbuatan ini adalah kekafiran karena termasuk perbuatan syirik (menjadikan sekutu) terhadap Allah.Juga mengandung perendahan hak Allah yaitu dari sisi menyerupakan-Nya dengan makhluk yang penuh dengan kekurangan.
  • Pemisalan (tamtsil):menetapkan adanya dzat selain Allah yang semisal dengan-Nya dalam perkara yang menjadi kekhusunan bagi Allah atau sifat-Nya. Yang seperti ini adalah kekafiran karena termasuk kesyirikan dan pendustaan terhadap Allah, berdasarkan firman-Nya :

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. QS.Asy Syura:11)

Juga mengandung perendahan hak Allah dari sisi memberikan permisalan bagi-Nya dengan makhluk.

Perbedaan antara memberikan permisalan (tamtsil) dan penyerupaan (tasybih) adalah bahwa tamtsil mengharuskan persamaan dari segala sisi, berbeda dengan tasybih (persamaanya dari sebagian sisi-pent). Wallahua’lambisshawab

LUM`ATUL I`TIQOD

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda; Dan Silahkan Masukkan Komentar / Pertanyaan Anda Disini : Perhatikan adab berikut! Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula. Allah meridhai kalian bila kalian: (1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah Dan Allah membenci kalian bila kalian: (1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim no. 1715) Admin paviliyunkeluarga.wordpress.com berhak untuk tidak memunculkan komentar yang tidak sesuai dengan adab di atas. Perlu anda ketahui: Komentar yang anda kirimkan akan dimoderasi oleh admin terlebih dahulu. Komentar anda yang muncul setelah klik tombol "KIRIM" hanyalah sekedar preview yang hanya muncul di komputer yang anda pakai, namun sebenarnya belum muncul

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: