Konsultasi Permasalahan Keluarga dan Memberi Solusinya Secara Islami

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .[رواه مسلم]

Dari Umar rodhiyallohuanhu juga, beliau berkata: Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu alaihi wasallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi shollallohu alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata: Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam. Kemudian Rosululloh shollallohualaihi wasallam menjawab: Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Romadhon, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika engkau mampu mengerjakannya. Orang itu berkata: Engkau benar. Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi: Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman. (Rosululloh) menjawab: Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.Orang tadi berkata: Engkau benar. Lalu orang itu bertanya lagi: Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan. (Beliau) menjawab: Hendaklah engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau. Orang itu berkata lagi: Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat. (Beliau) mejawab: Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya. Orang itu selanjutnya berkata: Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya. (Beliau) menjawab: Apabila budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan. Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda: Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu ?. Aku menjawab: Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Lalu beliau bersabda: Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.(HR. Muslim).

Syaroh Hadits: Assyaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin Rohimahullohuta’ala:

Ada beberapa faedah yang bisa dipetik dari hadist ini, di antaranya:

  1. Di antara petunjuk dan kebiasaan Nabi adalah duduk berdampingan dengan para sahabat. Hal ini menunjukkan baiknya akhlak beliau.
  2. Seyogyanya setiap orang itu mau bergaul dengan sesamanya serta tidak menyendiri atau menjauh dari mereka.
  3. Bergaul dengan orang lain adalah utama daripada menyendiri (‘uzlah), selama seseorang itu tidak mengkhawatirkan agamanya. Tapi jika dia mengkhawatirkan agamanya maka ‘uzlah itu lebih afdhal. Sebab, Nabi bersabda, ”Hampir-hampir saja masanya; sebaik-baik harta seseorang itu adlah kambing yang diikutinya hingga kepuncak-puncak gunung dan tempat turunnya hujan untuk membawa lari (menyelamatkan) agamanya dari fitnah.”44
  4. Para malaikat itu bisa menampakkan kepada manusia dengan paras (wujud) manusia. Sebab, dalam hadist ini, jibril muncul di hadapan para sahabat yang disebutkan diatas; yaitu seorang laki-laki dengan rambut yang sangat hitam dan mengenakan pakaian putih tanpa terlihat pada dirinya bekas bisa melakukan perjalanan serta tidak seorang pun diantara para sahabat yang mengenalnya.
  5. Adab yang baik dari seorang pelajar dihadapan seorang guru, di mana jibril duduk di hadapan Nabi shollallohu `alaihi wasallam dalam bentuk seperti itu, yang menunjukkan adanya adab (etika), mendengarkan dengan seksama dan kesiapan untuk menerima apa yang akan di sampaikan oleh seorang guru kepadanya.Jibril menyandarkan kdua lututnya pada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua telapaknya pada kedua paha beliau.
  6. Boleh memanggil Nabi shollallohu `alaihi wasallam dengan menggunakan nama beliau, karna dalam hadits diatas di sebutkan bahwa laki-laki itu memanggil beliau dengan mengatakan,”Ya Muhammad.” Ada kemungkinan, boleh jadi hal itu terjadi sebelum adanya pelarangan, yaitu sebelum turunnya larangan dari Allah mengenai hal itu melalui firman-Nya, ”janganlah kamu jadikan panggilan rasul diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian ( yang lain).” (An-Nur [24:63])

Hak ini di dasarkan pada salah satu dari dua bentuk penafsiran. Tetapi, ada kemungkian lain, yaitu bahwa hal seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan arab pedalaman(badui) yang datang kepada rasulullah shollallohu `alaihi wasallam selalu memanggil beliau dengan nama beliau, ”Ya Muhammad.”Pemahaman yang kedua ini lebih tepat karena pemaknaan yang pertama jelas masih membutuhkan pembuktian sejarah (apakah benar kejadian yang diceritakan dalam hadits ini sebelum turunnya larangan dalam ayat di atas).

7. Seseorang boleh menanyakan suatu yang sebenarnya di ketahui olehnya, demi memberikan pengajaran kepada orang yang tidak tahu.Sebab, jibril sudah tentu mengetahui jawabannya, apalagi dia sendiri mengatakan kepada Nabi-dalam hadits di atas-, ”engkau benar.” (jawaban benar).Tetapi, ketika penanya bermaksud agar orang yang ada disekitar orang yang memberi jawaban atas pertanyaan tersebut bisa belajar darinya maka hal itu di kategorikan sebagai bentuk pengajaran untuk mereka.

8. Seseorang yang menjadi penyebab, bisa di hukumi sebagai orang yang melakukannya secara langsung, jika hal itu terjadi karna sebab tersebut.Sebab, Nabi SAW berkata kepada para sahabat,”Itu tadi adalah jibril.Dia sengaja datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian.” Padahal, yang mengajarkan adalah rasulullah sendiri.Namun, ketika jibril menjadi penyebab terjadinya pengajaran tersebut karena pertanyaan yang di lontarkannya maka rasulullah menganggapnya sebagai orang pengajar (mu’allim)

9. Penjelasan bahwa rukun (pilar)islam itu ada lima. Nabi Shollalloohu `Alaihi Wasallam sendiri yang memberikan jawaban mengenai hal ini dengan bersabda,”Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak di ibadahi kecuali Alla;dan bahwa muhammad adalah utusan Allah, engkau tegakkan sholat, engkau tunaikan zakat,engkau tunaikan puasa ramadhan, dan engkau tunaikan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu perjalanan kesana.”

10. Setiap manusia harus memberikan persaksian (syahadat) dengan lidahnya di barengi dengan keyakinan didalam hatinya bahwa tidak ada sembahan yang berhak di ibadahi (ilah) kecuali Allah.Arti kata la ilaha (tidak ada ilah), adalah tidak ada yang berhak di ibadahi (ma’bud) kecuali Allah.Maka, engkau harus bersaksi dengan lidahmu di iringi dengan keyakinan hatimu bahwa tidak ada yang berhak di ibadahi di kalangan makhluk ini, entah yang berasal dari golongan para nabi, para wali, orang-orang shalih, pepohonan,bebatuan, atau yang lainnya, kecuali Allah.Segala yang di ibadahi selain Allah adalah batil.Allah berfirman,”(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah adalah yang Ha, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itu adalah batil.Sesungguhnya,Allah adalah Dzat yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”(Al-Hajj[22]:62)

11. Agama ini tidak akan sempurna, kecuali dengan persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Beliau adalah Muhammad bin Abdullah, yang berasal dari suku Quraisy dan keturunan Hasyim. Barang siapa ingin mengetahui secara sempurna tentang Rasul yang mulia ini, silahkan membaca Al-Qur’an serta kitab-kitab hadits dan kitab tarikh (sejarah).

12. Rasulullah menghimpun: syahadt tauhid; la illaha illallah dan syahadat rasul ; wa anna Muhammad rasulullah dalam satu rukun.Sebab, ibadah itu tidak akan sempurna sehingga terwujud dua hal: Ikhlas karena Allah,yang merupakan kandungan dari syahadat la ilaha illallah serta mengikuti Rasulullah, yang merupakan kandungan dari syahadat wa anna Muhammad rasulullah. Oleh karena itu, Rasulllah menjadikannya satu rukun dalam hadits Ibnu Umar ini, dimana beliau bersabda,”Islam di bangun diatas lima (pilar;rukun), yaitu persaksian bahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi kecuai Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah,mendirika sholat…dst.”

13. Keislaman seorang hamba tidak akan sempurna sehingga dia mendirikan shalat.Maksud mendirikan shalat adalah menunaikannya secara benar sesuai dengan syariat. Menagakkan shalat juaga berarti menunaikan kewajiban shalat dan menunaikan penyempurnaannya. Semua kewajiban shalat harus ditunaikan secara utuh, begitu juga dengan penyempurnaannya, sesuai dengan kita ketahui dari Kitab dan Sunnah serta penjelasan para ulama. 

14. Keislaman seseorang juga tidak akan sempurna, kecuali dengan menunaikan zakat.Zakat adalah harta yang wajib ditunaikan diantara harta kekayaan yang wajib di zakati. Maksud menunaikan zakat adalah memberikannya kepada yang berhak menerimanya. Hal ini telah Allah jelaskan dalam surat At-Tawbah,”Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir,orang-orang miskin,pengurus-pengurus zakat,para mu’allaf yang di bujuk hatinya,untuk (memerdekakan)budak,orang-orang yang berhutang,untuk jalan Allah dan orang-orang sedang dalam perjalanan,sebagai sesuatau ketetapan yang diwajikan Allah.Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”  (At-Tawbah[9]:60) 

Puasa Ramadhan adalah bentuk penghambaan atau amal ibadah (ta’abud) kepada Allah dengan cara menahan diri dari segala yang membatalkan puasa,mulai terbit fajar hingga matahari terbenam. Ramadhan adalah bulan yang terletak diantara bulan Sya’ban dan Syawal.

Sedangkan hijjul-bayt (haji ke Baitullah) adalah menyengaja datang ke Mekkah untuk menunaikan manasik haji.Tapi, hal ini masih tergantung kepada adanya kemampuan. Allah berfirman,”Maka,bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (At-Taghbun[64]:16)

Di antara kaidah yang telah ditetapkan menurut para ulama adalah,”Tidak ada kewajiban bagi orang yang tidak mampu dan tidak ada larangan jika dalam keadaan darurat.”

15  Utusan yang berasal dari golongan malaikat mensifati utusan dari golongan manusia dengan sifat ashi-shidq (benar). Allah benar apa yang disifatkan oleh Jibril `Alaihis Salam kepada Nabi Shollalloohu `Alaihi Wasallam karena beliau adalah makhluk yang paling benar atau paling jujur.

16. Adanya bukti kecerdasan pada sahabat, dimana meraka merasa heran bagaimana seorang penanya justru memmbenarkan orang yang dia tanya. Biasanya, orang yang bertanya itu adalah bodoh,rasa heran ini pun segrera hilang ketika Nabi Shollalloohu `Alaihi Wasallam bersabda,” Orang itu adalah Jibril.Dia sengaja datang kepada kalian untuk mengajarkan perihal ajaran agama kalian. 

17  Iman itu meliputi enam hal, yaitu imann kepada Allah,para malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya,para rasul-Nya,hari akhir, dan iman kepada qadha’ dan qadar; baik maupun buruk.

18  Adanya pembedaan antara “islam” dan “ iman“. Ini terjadi ketika kedua nya disebut secara bersamaan,sehingga “Islam” ditafsirkan sebagai amalan anggota badan, sedangkan “iman” ditafsirkan sebagai amalan hati. Aka tetapi,dalam keadaan mutlak,yaitu ketika disebut secara umum maka masing-masing dari keduanya mencakup yang lainnya. Firman Allah,”Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (AL-Ma’idah [5];3) Juga firman-Nya,

Barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka sekali0kali tidaklah akan diterima (agama itu) daaripadanya.” (Ali’Imran [3]:85)

Ini mencakup pengertian Islam maupun iman.Demikain juga firman Allah,”Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang beriman.” (Al-Anfal[8]:9) Dan ayat lainnya yang semisal,yang mengandung makna iman dan Islam.

Deemikian juga firman Allah,”Maka, (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahya yang mukmin.” (An-Nisa’[4]:92) Ayat ini mencakup pengertian Islam dan iman. Adapun jika keduanya disebut secara bersamaan maka masig-masing dari keduanya ditfsirkan seperti yag ditunjukkan oleh hadits di atas.

19    Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang terpenting dan paling agung.Oleh karena itu, Nabi mendahulukannya daripada yang lainnya. Nabi Shollalloohu `Alaihi Wasallam bersabda,”Engaku beriman kepada Allah.” Iman kepada Allah itu mencakup iman akan wujud Allah (yakin akan adanya Allah), rububiyah-Nya,uluhiyah-Nya,serta nama-nama dan sifat-sifat- Nya, Jadi, bukan hanya iman adanya Allahk, tetapi ia harus mencakup keimanan pada empat hal ini, yaitu mengimani wujud Allah,rububiya-Nya,uluhiyah-Nya,nama-nama-Nya,dan sifat-sifat-Nya.

20    Menetapkan adanya malaikat.Malaikat adalah alam ghaib yang disifati Allah di adalam Al-Qur’an dengan sekian banyak sifat;disifati pula oleh Nabi Shollalloohu `Alaihi Wasallam  didalam hadits.Cara mengimani mereka adalah dengan mengimani nama-nama yang telah dipastikan dalam nash, kita imani secara global. Demikan juga mengimani pekerjaan mereka yang kita ketahui melalui nash45 dan mengimani sifat-sifat yang kita ketahui berdasarkan nash. Di antaranya, Nabi Shollalloohu `Alaihi Wasallam melihat Jibril `Alaihis Salam memiliki enam ratus sayap yang menutupi cakrawala. Ini merupakan bentuk penciptaannya yang asli. Kewajiban kita terhadap malaikat itu adalah membenarkan mereka dan mencintai mereka karena mereka adalah hamba-hamba Allah yang melaksanakan perintah-Nya,seperti yang difirmankan Allah,”Kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi. Para malaikat yang di sisi-Nya tiada yang mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Meraka selalu bertasbih malam dan siang tanpa henti.”  (Al-Anbiya’[21]:19-20)

21    Kewajiban beriman pada kitab-kitab suci yang telah diturunkan Alah kepada para rasul-Nya. Allah berfirman,”Sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telaj Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia pada melaksanakan keadilan.” (Al-Hadid[57]:25) Maka. Kita wajib beriman pada setiap kitab yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya. Hanya saja kita mengimaninya secara global dan membenarkannya bahwa ia adalah haq.Adapun secara rinci, kitb-kitab terdahulu (sebelum Al-Qur’an) telah mengalami penyimpangan, penggantian dan pengubahan, sehingga manusia sudah tidak lagi bisa membedakan mana yang haq darinya dan mana pula yang batil.Bertolak dari sini maka kita mengimani kitab-kitab yang telah diturunkan Allah sebelum Al-Qur’an itu secara global saja. Adapun tentang perinciannya, kita khawatir jika kita mengambil atau mempercayai apa yang sebenarnya telah disimpangkan, diganti, dan di ubah. (Karena) Ini berkenaan dengan masalah iman pada kitab-kitab suci. Adapun tentang mengamalkannya maka kita amalkan adalah kitab yang di turunkan Allah kepada Nabi Muhammad saja, yang lainnya telah di nasakh (diganti) oleh syari’at ini.

22    Kewajiban eriman kepada rasul. Kita beriman bahwa setiap rasul yang di utus Allah adalah bena, datang dengan membawa kebenaran, jujur mengenai segala yang disampaikan, dan jujur mengenai apa yang di perintahkan kepadanya. Kita imani secara umum para rasul yang tidak kita kenal secara pasti dan kita imani secara rinci para rasul yang kita kenal secara pasti. Allah berfirman, “Sesungguhnya, telah kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada (pula) yang tidak kami ceritakan kepadamu.” (Ghafir [40]:78)

Diantara mereka ada yang dikisahkan Allah kepada kita sehingga kita mengetahuinya maka kita pun mengimaninya secara pasti tentang mereka, sedangkan yang tidak dikisahkan Allah kepada kita sehingga kita tidak mengenalnya maka kita mengimaninya secara umum. Rasul pertama yang di utus Allah adalah Nuh dan yang terakhir adalah Muhammad. Diantara mereka terdapat lima rasul ulul-’azmi, yang disebutkan Allah didalam dua ayat didalam Kitab-Nya. Didalam surat Al-Azhab [33],Allah berfirman ,”Ingatlah ketika kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari( kamu sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam.”(Asy-Syura [42]:13)

Sedangkan didalam surat Asy-Syura [42], Allah berfirman,”Dia telah mensyari’atkan kamu tentang agama apa yang telah di wasiatkn-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu : tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (Asy-Syura [42]:13)

23    Kewajiban beriman kepada hari akhr. Maksud hari akhir adalah hari kiamat. Dinamakan hari akhir karena ia merupakan tempat tinggal terakhir yang di diami manusia. Manusia itu dalam hidupnya menempati empat tempat tinggal: Pertama, perut ibunya; kedua, dunia ini; ketiga, barzakh, dan keempat, hari akhir. Sesudah itu tidak ad lagi tempat tinggal baginya; tinggal ada dua pilihan, ke surga atau ke neraka.

Iman kepada hari akhir-seperti yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah meliputi segala yang disampaikan Nabi Shollalloohu `Alaihi Wasallam mengenai apa yang terjadi sesudah kematian, termasuk kejadian dialam kubur, seperti: pertanyaan terhadap mayit mengenai Rabb-Nya, agamanya dan nabinya, juga mengenai kenikmatan dan azab didalam kubur.

24    Kewajiban iman kepada Qadar yang baik maupun yang buruk. Iman kepada qadar ini meliputi empat hal : pertama, mengimani bahwa ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu, baik secara global maupun terperinci, secara azali maupun selama-lamanya. Kedua, mengimani bahwa Allah telah menuliskan dalam Al-Lauh Al-Mahfuzh ketentuan (takdir) mengenai segala sesuatu hingga kiamat tiba. Ketiga, mengimani bahwa segala yang terjadi dialam ini adalah berdasarkan kehendak Allah; tidak ada sesuatupun yang terlepas dari kehendak-Nya. Keempat, mengimani bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu. Segala sesuatu adalah makhluk ciptaan Allah, entah yang berasal dari perbuatan Allah yang bersifat khusus, seperti menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman maupun yang berasal dari perbuatan hamba dan para makhluk lainnya. Perbuatan atau hasil karya para makhluk merupakan bagian dari penciptaan Allah. Ini karena perbuatan makhluk itu berasal dari kehendak dan kemampuan; sedangkan kehendak dan kemampuan merupakan bagian dari sifat hamba; sedangkan hamba dan sifat-sifatnya merupakan hasil ciptaan Allah. Dengan demikian, segala yang ada dijagad raya ini merupakan ciptaan Allah

25    Allah telah menakdirkan apa saja yang akan terjadi hingga hari kiamat sejak lima ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Apa saja yang Allah takdirkan atas diri manusia maka tak kan luput darinya dan apa saja yang tidak di takdirkan Allah atasnya maka tak akan menimpanya.

Inilah keenam rukun iman itu, yang telah di jelaskan oleh Rasulullah SAW. Keimanan seseorang tidak akan sempurna, kecuali dengan harus beriman pada keenam rukun ini. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang mengmani seluruh rukun iman.

26    Hadits diatas juga menjelaskan tingkatan ihsan, yaitu bila seseorang itu beribadah kepada Allah dengan penuh antusias dan bermunajat kepada-Nya seakan dia melihat-Nya sehingga dia ingin sekali bisa sampai kepada-Nya. Ini adalah tingkatan ihsan yang sempurna. Jika seorang hamba belum bisa meraih tingkatan ihsan yang puncak ini maka dia bisa meraih tingkatan ihsan di bawahnya, yaitu beribadah kepada Allah dengan rasa takut dan lari dari azab-Nya. Oleh karena itu,Nabi SAW bersabda,”Jika kamu belum bisa melihat-Nya maka sesungguhnya dia melihatmu.” Maksutnya,jika engkau belum bisa beribadah kepada-Nya seakan engkau melihatnya maka beribadahlah kepada-Nya seakan engkau sedang dilihat atau diawasi oleh-Nya.

27    Pengetahuan mengenai kapan terjadinya kiamat tertutup bagi kita.Tidak ada yang tahu kapan terjadinya kecuali Allah. Maka,barang siapa mengaku tahu kapan terjadinya kiamat,sebenarnya dia adalah pendusta. Masalah kiamat ini juga di ketahui oleh urusan yang paling utama dari kalangan malaikat maupun oleh utusan yang paling utama dari kalangan manusia,yaitu Nabi Muhammad Shollalloohu `Alaihi Wasallam dan Jibril `Alaihis Salaam.

28    Kiamat itu memilika tanda-tanda,seperti yang difirmankan Allah,”Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat,(yaitu)kedatangan kepada mereka dengan tiba-tiba,karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya.” (Muhammad [47]:18)

Para ulama membagi tanda-tanda kiamat ini menjadi tiga bagian:(1) Tanda-tanda kiamat yanag telah berlalu.(2) Tanda-tanda kiamat yang masih dan akan terus muncul.(3) Tanda-tanda yang hanya akan muncul ketika sudah mendekati terjadinya kiamat, yaitu tanda-tanda kiamat besar,seperti turunya Nabi Isa, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, dan terbitnya matahari dari tempat terbenamnya.47 Nabi juga telah menyebutkan sebagian dari tanda-tanda kiamat itu, yaitu jika seorang budak perempuan melahirkan tuan putrinya. Maksutnya, wanita tersebut adalah seorang budak yang melahirkan anak perempuan,dan perempuan ini kemudian menjadi kaya raya; memiliki kekayaan seperti ibunya.Ini merupakan arti lain dari melimpahnya harta benda dan menyebarnya harta ditangan semua orang. Perumpamaan ini dikuatkan lagi oleh sabda Nabi SAW selanjutnya, “Jika engkau lihat orang-orang tak beralas kaki dan tak berpakaian,miskin lagi bekerja sebagai pengembala kambing, mereka saling berlomba dan saling berbangga dengan bangunan yang tinggi.” 

29    Pengajaran yang baik dari Nabi Shollalloohu `Alaihi Wasallam, di mana beliau menanyakan kepada para sahabat, apakah mereka tahu tentang sang penanya atau tidak. Pertanyaan beliau ini sebenarnya dimaksudkan untuk memberitahu mereka. Hal seperti ini tentu lebih melekat dalam ingatan mereka daripada jika beliau langsung memberitahukan kepada mereka sejak awal. Sebab, jika beliau menanyakan kepada mereka, kemudian-setelah mereka merasa tidak tahu-baru memeberitahukan kepada mereka maka hal ini tentu lebih menarik perhatian dan kesadaran meraka untuk ingin tahu, jawabannya pun akan lebih melekat di dalam ingatan mereka.

30    Orang yang menanyakan perihal ilmu dapat dikatagorikan sebagai “guru” (mu’allim). Hal ini telah kita singgung di depan. Tetapi, ingin saya jelaskan di sini bahwa seharusnya seseorang itu menanyakan sesuatu yang memang dibutuhkan orang lain, sekali pun sebenarnya dia telah mengetahuinya. Hal ini dimaksudkan agar dia akan ikut mendapatkan pahala dari pengajaran atau jawaban dari orang alim atas pertanyaan yang disampaikannya. Hanya Allah yang bisa memberi petunjuk.

Wallohu a’lam bishshowab

SYAROH HADITS ARBA`IN

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda; Dan Silahkan Masukkan Komentar / Pertanyaan Anda Disini : Perhatikan adab berikut! Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula. Allah meridhai kalian bila kalian: (1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah Dan Allah membenci kalian bila kalian: (1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim no. 1715) Admin paviliyunkeluarga.wordpress.com berhak untuk tidak memunculkan komentar yang tidak sesuai dengan adab di atas. Perlu anda ketahui: Komentar yang anda kirimkan akan dimoderasi oleh admin terlebih dahulu. Komentar anda yang muncul setelah klik tombol "KIRIM" hanyalah sekedar preview yang hanya muncul di komputer yang anda pakai, namun sebenarnya belum muncul

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: