Konsultasi Permasalahan Keluarga dan Memberi Solusinya Secara Islami

Penulis: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

أَنْكَحْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ

Dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Aku nikahkan kamu dengan dia dengan mahar apa yang ada padamu dari Al-Qur`an.”

Hadits ini diriwayatkan oleh:
Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad-nya no. hadits 21733, 21783;
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Kitabul Wakalah no. hadits 2310, Kitab Fadhailul Qur`an no. hadits 5029, no. hadits 5030, Kitabun Nikah no. hadits 5087, 5121, 5126, 5135, 5141, 5149, 5150;
Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 1425;
Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu dalam Kitabun Nikah ‘an Rasulillah no. hadits 1023;
Al-Imam An-Nasa`i rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 3228, 3306;
Al-Imam Abu Dawud rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 1806;
Al-Imam Ibnu Majah rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 1879;
Al-Imam Malik rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 968;
Al-Imam Ad-Darimi rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 2104.
Adapun kelengkapan hadits di atas dalam Shahih Al-Bukhari Kitabun Nikah no. 5149:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ يَقُولُ: إِنِّي لَفِي الْقَوْمِ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذْ قَامَتِ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ فَرَ فِيهَا رَأْيَكَ. فَلَمْ يُجِبْهَا شَيْئًا، ثُمَّ قَامَتْ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ فَرَ فِيهَا رَأْيَكَ. فَلَمْ يُجِبْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتِ الثَّالِثَةَ فَقَالَتْ: إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ فَرَ فِيهَا رَأْيَكَ، فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنْكِحْنِيهَا. قَالَ: هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: اذْهَبْ فَاطْلُبْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ. فَذَهَبَ فَطَلَبَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ: مَا وَجَدْتُ شَيْئًا وَلاَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ. فَقَالَ: هَلْ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ شَيْءٌ؟ قَالَ: مَعِي سُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا. قَالَ: اذْهَبْ فَقَدْ أَنْكَحْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ

Dari Sahl bin Sa’id As-Sai’di, ia berkata: Sesungguhnya aku berada pada suatu kaum di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba berdirilah seorang wanita seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikanlah dia, bagaimana menurutmu.” [1] Beliau pun diam dan tidak menjawab sesuatupun. Kemudian berdirilah wanita itu dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikanlah dia, bagaimana menurutmu.” Beliaupun diam dan tidak menjawab sesuatupun. Kemudian ia pun berdiri untuk yang ketiga kalinya dan berkata: “Sesungguhnya ia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikan dia, bagaimana menurutmu.” Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan berkata: “Ya Rasulullah, nikahkanlah saya dengannya.” Beliaupun menjawab: “Apakah kamu memiliki sesuatu?” Ia berkata: “Tidak.” Kemudian beliaupun berkata: “Pergilah dan carilah (mahar) walaupun cincin dari besi.” Kemudian iapun mencarinya dan datang kembali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata: “Saya tidak mendapatkan sesuatupun walaupun cincin dari besi.” Maka Rasulullah bersabda: “Apakah ada bersamamu (hafalan) dari Al-Qur`an?” Ia berkata: “Ada, saya hafal surat ini dan itu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pergilah, telah aku nikahkan engkau dengan dia dengan mahar berupa Al- Qur`an yang ada padamu.”

Jalur Periwayatan Hadits
Hadits ini bermuara pada Abu Hazim Salamah bin Dinar Al-A’raj Al-Madani. Adapun para rawi yang meriwayatkan dari beliau yaitu Sufyan bin ‘Uyainah, Malik bin Anas, Ya’qub bin Abdurrahman, Hammad bin Zaid, Abdul Aziz bin Muhammad Ad- Darawardi, Za`idah bin Qudamah Abu Ash-Shalt, Abdul ‘Aziz bin Abi Hazim Abu Tamam, Abu Ghassan Al-Madani Muhammad bin Mutharrif, dan Fudhail bin Sulaiman An-Numairi.

Footnote

[1] Dalam riwayat Malik: “Sesungguhnya saya menghibahkan diri saya untukmu.” Namun di sini menggunakan kata ganti orang ketiga “dia”. Ini disebut dengan uslub iltifat. (lihat Al-Fath, 9/206)

Pembahasan selanjutnya akan di bahas Makna Hadits dan Faedah Hadis

Di Arsipkan : PaviliyunKeluarga.wordpress.com

Comments on: "Hadits Nabi Shallallahu’alaihi wasallam" (8)

  1. ana belum pernah baca riwayat jika ijab kabul harus salaman…

    Dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Aku nikahkan kamu dengan dia dengan mahar apa yang ada padamu dari Al-Qur`an.”

    apakah setelah ini nabi bersalaman…? dan tidak juga ada ucapan SAYA TERIMA NIKAHNYA
    yang ada hanya perintah pergi —-> “Pergilah, telah aku nikahkan engkau dengan dia dengan mahar berupa Al- Qur`an yang ada padamu.”

  2. Bismillah. Dalam menelaah hadits di atas, maka perlu dilihat hadits-hadits yg lain secara komprehensiv, jadi jangan sampai satu hadits difahami scara berdiri sendiri jika ada hadits lain yg menerangkan dalam perkara yg sama, dan juga kita tdk boleh lepas dari pandangan para ulama’ dalam menafsirkan hadits hadits itu. Dalam hadits tsb di atas memang tdk ada lafadz ijab qobulnya akan tetapi bukan berarti itu TIDAK USAH ADA, karena penetapanya harus didukung dengan hadits2 yg lainya yg shohih yg telah menjelaskan permaslahan ijab dan qobul. Para ulama’ spakat bahwa termasuk rukun nikah adalah adanya ijab, yaitu lafadz yang diucapkan oleh wali atau yang menggantikan posisi wali. Misalnya dengan si wali mengatakan, “Zawwajtuka Fulanah” (“Aku nikahkan engkau dengan si Fulanah”) atau “Ankahtuka Fulanah” (“Aku nikahkan engkau dengan Fulanah”).

    Dan adanya qabul, yaitu lafadz yang diucapkan oleh suami atau yang mewakilinya, dengan menyatakan, “Qabiltu Hadzan Nikah” atau “Qabiltu Hadzat Tazwij” (“Aku terima pernikahan ini”) atau “Qabiltuha.”

    Dalam ijab dan qabul dipakai lafadz inkah dan tazwij karena dua lafadz ini yang datang dalam Al-Qur`an. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا

    “Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), zawwajnakaha1 (Kami nikahkan engkau dengan Zainab yang telah diceraikan Zaid).” (Al-Ahzab: 37)

    Dan firman-Nya:

    وَلاَ تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

    “Janganlah kalian menikahi (tankihu2) wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayah-ayah kalian (ibu tiri).” (An-Nisa`: 22)

    Namun penyebutan dua lafadz ini dalam Al-Qur`an bukanlah sebagai pembatasan, yakni harus memakai lafadz ini dan tidak boleh lafadz yang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu, demikian pula murid beliau Ibnul Qayyim rahimahullahu, memilih pendapat yang menyatakan akad nikah bisa terjalin dengan lafadz apa saja yang menunjukkan ke sana, tanpa pembatasan harus dengan lafadz tertentu. Bahkan bisa dengan menggunakan bahasa apa saja, selama yang diinginkan dengan lafadz tersebut adalah penetapan akad. Ini merupakan pendapat jumhur ulama, seperti Malik, Abu Hanifah, dan salah satu perkataan dari mazhab Ahmad. AKAD NIKAH SEORANG YANG BISU TULI BISA DILAKUKAN dengan MENULISKAN ijab qabul atau dengan ISYARAT YANG DAPAT DIPAHAMI.
    [Al-Ikhtiyarat, hal. 203, I’lamul Muwaqqi’in, 2/4-5, Asy-Syarhul Mumti’, 12/38-44, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/283-284]

  3. masalah bersalamannya ustadz ?

    dan ana juga belum begitu memahami makna hadis===>

    Ada 3 yang jika diucapkan bersungguh-sungguh atau pun main-main maka hasilnya sunggguh – sungguh yaitu NIKAH, talaq dan rujuk

    yang ingin ana tanyakan nikah yang termasuk main-main yang hasilnya sungguh-sungguh itu seperti apa?

    ana pernah dengar kajian pembicaranya menjelskan tentang contoh hadis tersebut seperti…

    seorang Bapak menpunyai anak perempuan melihat pemuda yang Alim kemudian mengatakan AKU NIKAHKAN ENGKAU DENGAN ANAK KU maka pemuda tersebut sah Menjadi suami anak Bapak tersebut, apakah pernikahan tersebut tetap sah walau pemuda tersebut tidak mengkucapkan qabal..?

    • Belum ada dalil yg shohih yang menunjukkan masuknya jabat tangan menjadi rukun nikah di dalam berbagai kitab fiqih ahlussunnah. tetapi hal ini sudah menjadi kebiasaan orang orang di skitar kita bahkan ada yg berlebih lebihan dengan menggoyang2kanya, atau bahkan ada yg mengatkan qobul harus dengan 1 nafas,kalau ada jeda maka diulang, maka pendapat ini lemah tidk didukung dalil.

      Untuk penjelasan hadits di atas :
      Yang dimaksud dengan main-main adalah apabila akad nikah dilakukan oleh para pihak yang memang punya wewenang untuk melakukanya.

      Para pihak itu yang pertama adalah ayah kandung si gadis. Apabila seorang Ayah dari seorang gadis mengucapkan ijab, walau pun sambil bercanda atau main-main, maka tetap dianggap serius. Ijab itu setidaknya mengandung makna yang intinya menikahkan anak gadis itu dengan orang yang diajak bicara.

      Misalnya ucapan sepert ini, “Kamu Aku nikahkan dengan anakku si Jamilah.” Atau ungkapan seperti ini, “Kamu saya jadikan suami anak saya si Wardah.” Dan ungkapan lain yang sejenis.

      Lafadz seperti itu walau pun diucapkan main-main, tetap terhitung serius dan sah dalam hukum Islam sebagai ijab.

      Para pihak kedua adalah orang yang diajak bicara oleh Ayah si gadis itu, dengan syarat orang itu muslim, laki-laki, dan menjawab ijba itu dengan lafadz qabul.

      Lafadz qabul itu intinya merupakan persetujuan atas lafadz ijab yang sebelumnya diucapkan. Bahkan para ulama mengatakan bahwa satu ucapan yang maknanya berupa bersetujuan sekali pun, sudah dianggap sah sebagai qabul.

      Misalnya, si laki-laki itu mengucapkan, “Ya.” Atau dia mengatakan, “Oke.” Atau dia bilang, “Yes”, sambil mengepalkan tangan. Maka ucapan itu sudah dianggap sebagai lafadz qabul yang sah dalam hukum Islam.

      Lalu apakah sudah sah akad nikah itu?

      Belum, jangan terburu-buru dulu. Selama kedua belah pihak saling berijab dan qabul namun kalau tidak ada saksinya, tetap saja akad itu belum sah.

      Untuk itu, keberadaan dua orang saksi menjadi penentu, apakah ijab kabul itu sah atau tidak. Syarat sebagai saksi adalah:

      1. Laki-laki
      2. Muslim
      3. Berakal
      4. Baligh
      5. Adil
      6. Jumlahnya minimal dua orang

      Nah, bila semua unsur di atas telah terpenuhi, maka barulah akad nikah itu sah. Walau pun dilakukan tanpa sengaja atau tidak serius. Walau pun dilakukan sambil main-main. Walau pun tidak dilakukan di depan KUA.

      Wallohua’lam bisshowwab.

  4. jazakallahu khairan.. mumtaz

    sebenarnya redaksi Hadist tersebut diatas jika benar kita baca dengan seksama maka kita dapat ketahui sudah terdapat Ijab dan Qabul===>

    Dari Sahl bin Sa’id As-Sai’di, ia berkata: Sesungguhnya aku berada pada suatu kaum di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba berdirilah seorang wanita seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikanlah dia, bagaimana menurutmu.” Beliau pun diam dan tidak menjawab sesuatupun. Kemudian berdirilah wanita itu dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikanlah dia, bagaimana menurutmu.” Beliaupun diam dan tidak menjawab sesuatupun. Kemudian ia pun berdiri untuk yang ketiga kalinya dan berkata: “Sesungguhnya ia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikan dia, bagaimana menurutmu.” Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan berkata: “Ya Rasulullah, nikahkanlah saya dengannya.” Beliaupun menjawab: “Apakah kamu memiliki sesuatu?” Ia berkata: “Tidak.” Kemudian beliaupun berkata: “Pergilah dan carilah (mahar) walaupun cincin dari besi.” Kemudian iapun mencarinya dan datang kembali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata: “Saya tidak mendapatkan sesuatupun walaupun cincin dari besi.” Maka Rasulullah bersabda: “Apakah ada bersamamu (hafalan) dari Al-Qur`an?” Ia berkata: “Ada, saya hafal surat ini dan itu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pergilah, telah aku nikahkan engkau dengan dia dengan mahar berupa Al- Qur`an yang ada padamu.”

    sahnya nikah berarti sama halnya halalnya jual beli harus ada Ijab Qabul…

    • Mirip tapi ada perbedaanya sdikit, ijab dan qabul dalam akad/transaksi jual beli bisa diucapkan penjual semacam mengatakan: ”Saya jual barang ini.” Qabul dengan lafadz yang diucapkan pembeli, semacam mengatakan: ”Saya beli barang ini.”

      Namun terkadang ijab qabul ini BISA DILAKUKAN dengan perbuatan, yaitu pedagang memberikan barang dan pembeli memberikan uang, WALAUPUN TANPA bicara. Atau terkadang dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.

      wallohua’lam

  5. […] peembahasan sebelumnya menjelaskan Hadits Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam untuk itu mari kita simak dari pejelasan Makna Hadits […]

  6. […] Hadits Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam Makna Hadits […]

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda; Dan Silahkan Masukkan Komentar / Pertanyaan Anda Disini : Perhatikan adab berikut! Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula. Allah meridhai kalian bila kalian: (1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah Dan Allah membenci kalian bila kalian: (1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim no. 1715) Admin paviliyunkeluarga.wordpress.com berhak untuk tidak memunculkan komentar yang tidak sesuai dengan adab di atas. Perlu anda ketahui: Komentar yang anda kirimkan akan dimoderasi oleh admin terlebih dahulu. Komentar anda yang muncul setelah klik tombol "KIRIM" hanyalah sekedar preview yang hanya muncul di komputer yang anda pakai, namun sebenarnya belum muncul

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: