Konsultasi Permasalahan Keluarga dan Memberi Solusinya Secara Islami

Sholat Dan Shafar

Tanya :

assalamualaikum,

ketika kita dalam perjalanan yang menempuh waktu sehari semalam, jika kita sholat tapi merasa pakaian yg kita kenakan itu kotor atau tidak bersih, sementara tempat untuk mengganti pakaian tersebut tidak ada, apakah kita tetap syah kalau sholat atau harus bagaimana ? dan jika di temukan pakaian tersebut bernajis apa yang harus di lakukan,apakah kita harus mengqodo sholat setiba di tmpt tujuan atau harus tetap berganti pakaian? kalau masalah meng qodo sholat itu pada keadaan apa aja yang boleh dilakukan ?

Jawab :

wa’alaikum salam warahmatullah

Dalam qoidah ushul fiqh, “Al yaqiinu laa yazuulu bisyak”. Sesuatu yg YAQIN tidak bisa terhapus oleh sesuatu yg meragukan. Pilih dengan prasangka yang kuat, untuk menggapai suatu yang yaqin itu periksalah pakaian antum ada tidak yang terkena najis, smisal baunya atau yang tampak. Kalau hanya kotor debu dan sesuatu yang tidak najis maka yaqinlah dan sholatlah InsyaAlloh Sah.

Namun jika pakaian tersebur bernajis cobalah antum cari musholla atau masjid terdekat yang didalam musholla atau masjid tersebut menyediakan pakaian shalat yang bisa dipakai untuk shalat,  Tetapi kalau telah lewat waktu sehingga smisal antum sampai tujuan di pagi hari yang tidak mungkin untuk menjama’ sholat sebelumnya, maka bertaubatlah. Dan hendaknya disiapkan hal hal yang dibutuhkan untuk ibadah bila kita akan safar.

Dari Anas ibn malik rodhiallahu anhu berkata, berkata Rasulullah sholallahu alaihi wasalaam : Barangsiapa yang lupa (mengerjakan) sholat maka sholatlah ketika ingat, tidak ada kafarat baginya kecuali itu (mengganti), beliau membaca firman Allah swt : Dirikanlah sholat (wa aqimus sholat lidzikri).
Dan bagi riwayat muslim : Barangsiapa lupa (mengerjakan) sholat atau tertidur, maka kafaratnya adalah mengerjakan sholat ketika ingat.

Makna Ijmal :

Sholat memiliki waktu awal dan akhir, tidak boleh mengerjakan sebelum waktunya sebagaimana tidak boleh mengerjakan diluar waktunya. Jika tertidur atau lupa sampai keluar waktunya maka tidak ada dosa baginya dikarenakan udzur, dan wajib baginya untuk menyegerakan qodho ketika ingat. Tidak boleh meng-akhirkan, karena kafarat bagi yang meninggalkan hingga keluar dari waktunya adalah menyegerakan qodho, dan Allah berfirman Wa Aqimish Sholat lidzikri (surat Thaha : 14)

Nabi sholallahu alaihi wasalaam membaca ayat ini (Thoha 14) untuk mengingatkan hukum ini, yaitu mengerjakan sholat pada saat ingat.

Jumhur ulama memilih menyegerakan mengerjakan sholat ketika ingat. Mereka (jumhur) menjawab dalil dari imam Syafii bahwa : tidaklah makna “segera” itu meniadakan pengakhiran yang sedikit untuk lebih menyempurnakan sholat dan membersihkannya. Karena sesungguhnya bolehnya menunda sebentar itu untuk menunggu jamaah sholat atau memperbanyaknya atau yang semacamnya.

Secara panjang lebar Ibnul Qoyyim membahasnya dalam kitab beliau kitab Sholat dan menyalahkan yang mengatakan bolehnya menundanya dalam qodho sholat.

Bersepakat para ulama akan dosanya yang besar bagi siapa yang mengakhirkan sholat tanpa udzur sehingga keluar dari waktunya. Akan tetapi empat imam mewajibkan qodho atasnya bersamaan dengan berhaknya dia mendapat hukuman, kecuali Allah memaafkannya.

Berkata sebagian salaf dan kholaf : barangsiapa mengakhirkan sholat dengan sengaja dari waktunya tanpa udzur, hingga keluar dari waktunya, maka tidak ada jalan untuk qodho selamanya. Dan tidak diterima atasnya , dan wajib baginya taubat nashuha, memperbanyak istighfar dan memperbanyak sholat-sholat sunnah.

Juga, Nabi sholallahu alaihi wasalaam sholat ashr setelah maghrib pada hari khondaq bersama para shahabatnya, dan dimaklumi bahwa mereka bukanlah tidur, juga tidak lupa, walaupun sebagian dari mereka lupa akan tetapi tidak lupa semuanya.

Golongan lain yang menyatakan tidak ada qodho adalah shaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah yang secara panjang dijelaskan dalam Kitab Sholat yang membantah ucapan yang menyelisihinya. Diantara dalilnya adalah ucapan wajibnya qodho atas orang yang tertidur dan lupa, pemahamannya adalah tidak wajib atas yang selainnya. Dan perintah syari terbagi atas dua bagian :

Satu : muthlaq

Dua : yang terkait (waktu/tempat) seperti sholat jumat dan hari arofah

Permisalan dalam ibadah ini tidaklah diterima kecuali pada waktunya, termasuk diantaranya adalah sholat yang diakhirkan dari waktunya tanpa udzur.

Orang yang berperang diperintah untuk sholat ketika pertempuran sedang berkecamuk. Semua ini adalah semangat untuk mengerjakannya pada waktunya. Seandainya disana ada rukhsoh maka mereka akan mengakhirkan sholat agar dapat mengerjakan dengan syarat dan rukun-rukunnya, yang ini semua tidak mungkin dilaksanakan bersamaan dengan peperangan. Hal ini menunjukkan bahwa waktu didahulukan atas seluruh kewajiban dan syarat-syaratnya.

Adapun tidak diterimanya qodho sholat bagi orang yang lalai sampai keluar dari waktunya, hal ini tidak lebih ringan (lebih berat) dari orang yang udzur, karena orang yang memiliki udzur tidak ada celaan atas mereka. Tidak diterimanya sholat darinya adalah sebagai hukuman dan tindakan keras atasnya. Ibnul Qoyyim memaparkan secara luas, bagi yang menginginkan pembahasan yang lebih jelas hendaknya merujuk ke kitab beliau.

Adapun perkataan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam pembahasan ini, disebutkan dalah ikhtiyaarot : meninggalkan sholat dengan sengaja tidak disyariatkan meng-qodho dan tidak sah qodho darinya, akan tetapi hendaknya dia memperbanyak sholat sunnah. Ini adalah pendapat sebagian salaf seperti Abu Abdurrahman (shahabat Syafii) dan Dawud dan yang mengikutinya. Tidak ada dalil yang menyelisihi pendapat tersebut, bahkan yang ada mencocokinya.

Syaikh Shidiq Hasan (Khan) dalam kitabnya Roudhotun Nadiyah juga cenderung kepada pendapat ini. Demikianlah yang dapat saya (Abdurrahman alu Bassam) ringkaskan dalam permasalahan ini, wallahu a’lam bish showab.

Faedah Hadits :

1. Wajibnya qodho sholat atas orang yang lupa dan tertidur sampai dia sadar

2. wajibnya untuk menyegerakan, karena menundanya setelah ingat adalah termasuk melalaikan

3. Tidak ada dosa bagi yang mengakhirkan sholat karena udzur, seperti lupa atau tertidur selama tidak melalaikan, karena tidur setelah masuk waktu sholat atau dia tidur sementara mengetahui tidak ada pengingat ketika masuk waktu (seperti jam weker misal), berarti dia tidak mengambil sebab yang dapat membangunkannya ketika waktu sholat telah masuk.

Sumber : (Diedit dari kitab Taiisrul Allam Syarh Umdatul Ahkam – Syaikh Abdurrohman Alu Bassam)

Di salin dari Dari Anas ibn malik rodhiallahu anhu berkata, berkata Rasulullah sholallahu alaihi wasalaam : Barangsiapa yang lupa (mengerjakan) sholat maka sholatlah ketika ingat, tidak ada kafarat baginya kecuali itu (mengganti), beliau membaca firman Allah swt : Dirikanlah sholat (wa aqimus sholat lidzikri).
Dan bagi riwayat muslim : Barangsiapa lupa (mengerjakan) sholat atau tertidur, maka kafaratnya adalah mengerjakan sholat ketika ingat.

Makna Ijmal :

Sholat memiliki waktu awal dan akhir, tidak boleh mengerjakan sebelum waktunya sebagaimana tidak boleh mengerjakan diluar waktunya. Jika tertidur atau lupa sampai keluar waktunya maka tidak ada dosa baginya dikarenakan udzur, dan wajib baginya untuk menyegerakan qodho ketika ingat. Tidak boleh meng-akhirkan, karena kafarat bagi yang meninggalkan hingga keluar dari waktunya adalah menyegerakan qodho, dan Allah berfirman Wa Aqimish Sholat lidzikri (surat Thaha : 14)

Nabi sholallahu alaihi wasalaam membaca ayat ini (Thoha 14) untuk mengingatkan hukum ini, yaitu mengerjakan sholat pada saat ingat.

Jumhur ulama memilih menyegerakan mengerjakan sholat ketika ingat. Mereka (jumhur) menjawab dalil dari imam Syafii bahwa : tidaklah makna “segera” itu meniadakan pengakhiran yang sedikit untuk lebih menyempurnakan sholat dan membersihkannya. Karena sesungguhnya bolehnya menunda sebentar itu untuk menunggu jamaah sholat atau memperbanyaknya atau yang semacamnya.

Secara panjang lebar Ibnul Qoyyim membahasnya dalam kitab beliau kitab Sholat dan menyalahkan yang mengatakan bolehnya menundanya dalam qodho sholat.

Bersepakat para ulama akan dosanya yang besar bagi siapa yang mengakhirkan sholat tanpa udzur sehingga keluar dari waktunya. Akan tetapi empat imam mewajibkan qodho atasnya bersamaan dengan berhaknya dia mendapat hukuman, kecuali Allah memaafkannya.

Berkata sebagian salaf dan kholaf : barangsiapa mengakhirkan sholat dengan sengaja dari waktunya tanpa udzur, hingga keluar dari waktunya, maka tidak ada jalan untuk qodho selamanya. Dan tidak diterima atasnya , dan wajib baginya taubat nashuha, memperbanyak istighfar dan memperbanyak sholat-sholat sunnah.

Juga, Nabi sholallahu alaihi wasalaam sholat ashr setelah maghrib pada hari khondaq bersama para shahabatnya, dan dimaklumi bahwa mereka bukanlah tidur, juga tidak lupa, walaupun sebagian dari mereka lupa akan tetapi tidak lupa semuanya.

Golongan lain yang menyatakan tidak ada qodho adalah shaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah yang secara panjang dijelaskan dalam Kitab Sholat yang membantah ucapan yang menyelisihinya. Diantara dalilnya adalah ucapan wajibnya qodho atas orang yang tertidur dan lupa, pemahamannya adalah tidak wajib atas yang selainnya. Dan perintah syari terbagi atas dua bagian :

Satu : muthlaq

Dua : yang terkait (waktu/tempat) seperti sholat jumat dan hari arofah

Permisalan dalam ibadah ini tidaklah diterima kecuali pada waktunya, termasuk diantaranya adalah sholat yang diakhirkan dari waktunya tanpa udzur.

Orang yang berperang diperintah untuk sholat ketika pertempuran sedang berkecamuk. Semua ini adalah semangat untuk mengerjakannya pada waktunya. Seandainya disana ada rukhsoh maka mereka akan mengakhirkan sholat agar dapat mengerjakan dengan syarat dan rukun-rukunnya, yang ini semua tidak mungkin dilaksanakan bersamaan dengan peperangan. Hal ini menunjukkan bahwa waktu didahulukan atas seluruh kewajiban dan syarat-syaratnya.

Adapun tidak diterimanya qodho sholat bagi orang yang lalai sampai keluar dari waktunya, hal ini tidak lebih ringan (lebih berat) dari orang yang udzur, karena orang yang memiliki udzur tidak ada celaan atas mereka. Tidak diterimanya sholat darinya adalah sebagai hukuman dan tindakan keras atasnya. Ibnul Qoyyim memaparkan secara luas, bagi yang menginginkan pembahasan yang lebih jelas hendaknya merujuk ke kitab beliau.

Adapun perkataan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam pembahasan ini, disebutkan dalah ikhtiyaarot : meninggalkan sholat dengan sengaja tidak disyariatkan meng-qodho dan tidak sah qodho darinya, akan tetapi hendaknya dia memperbanyak sholat sunnah. Ini adalah pendapat sebagian salaf seperti Abu Abdurrahman (shahabat Syafii) dan Dawud dan yang mengikutinya. Tidak ada dalil yang menyelisihi pendapat tersebut, bahkan yang ada mencocokinya.

Syaikh Shidiq Hasan (Khan) dalam kitabnya Roudhotun Nadiyah juga cenderung kepada pendapat ini. Demikianlah yang dapat saya (Abdurrahman alu Bassam) ringkaskan dalam permasalahan ini, wallahu a’lam bish showab.

Faedah Hadits :

1. Wajibnya qodho sholat atas orang yang lupa dan tertidur sampai dia sadar

2. wajibnya untuk menyegerakan, karena menundanya setelah ingat adalah termasuk melalaikan

3. Tidak ada dosa bagi yang mengakhirkan sholat karena udzur, seperti lupa atau tertidur selama tidak melalaikan, karena tidur setelah masuk waktu sholat atau dia tidur sementara mengetahui tidak ada pengingat ketika masuk waktu (seperti jam weker misal), berarti dia tidak mengambil sebab yang dapat membangunkannya ketika waktu sholat telah masuk.

Sumber : (Diedit dari kitab Taiisrul Allam Syarh Umdatul Ahkam – Syaikh Abdurrohman Alu Bassam)

Di salin dari : Paviliyun Keluarga – Permasalahan dan Solusinya

Di Arsipkan : Paviliyunkeluarga.wordpress.com

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda; Dan Silahkan Masukkan Komentar / Pertanyaan Anda Disini : Perhatikan adab berikut! Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula. Allah meridhai kalian bila kalian: (1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah Dan Allah membenci kalian bila kalian: (1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim no. 1715) Admin paviliyunkeluarga.wordpress.com berhak untuk tidak memunculkan komentar yang tidak sesuai dengan adab di atas. Perlu anda ketahui: Komentar yang anda kirimkan akan dimoderasi oleh admin terlebih dahulu. Komentar anda yang muncul setelah klik tombol "KIRIM" hanyalah sekedar preview yang hanya muncul di komputer yang anda pakai, namun sebenarnya belum muncul

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: