Konsultasi Permasalahan Keluarga dan Memberi Solusinya Secara Islami

Diantara sebab terhalangnya hidayah sampai kepada kita semua; ada beberapa sebab; diantaranya adalah :

1. Kurangnya Ilmu dan lemahnya pemahamahan tersebut tentang kebenaran.

Ilmu adalah cahaya sedangkan kebodohan adalah kegelapan; maka solusinya adalah menuntut ilmu sebagaimana yang dikatakan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam :

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim [ Hr. Ibnu Majah dan lainnya dan dinilai shohih oleh Syaikh Albany dalam kitabnya Shohihut Targhib wat Tarhib no. 69]

2. Hati yang kotor akibat maksiat.

Al-Imam Ibnu Qoyyim mengatakan :

Bisa jadi pengetahuan dia tentang ilmu tersebut sempurna ; tetapi tidak cukup hanya pengetahuan saja untuk bisa mengikuti kebenaran; melainkan ada sayarat lain yaitu hati harus bersih atau dia telah siap mengikuti kebenaran itu; dan siap untuk dibersihkan akibat maksiat. Apabila dia sendiri belum dibersihkan ; maka kebenaran sejelas apapun akan sulit dia terima apalagi untuk di ikuti. Apabila tempatnya itu tidak bersih dan tidak siap dibersihkan; maka seumpaman tanah gersang; meskipun turun hujan tetap tidak bisa menumbuhkan tanaman [Ighatsatul Lahafan (juz 2 hal 176-177)]

3. Sombong dan Dengki

Tidak akan masuk Syurga barangsiapa yang di hatinya ada kesombongan walau pun sebesar biji sawit / Atom ; sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia [Hr. Muslim]

4. Lebih mencintai kehormatan daripada kebenaran itu sendiri.

Terkadang seseorang itu mengetahui bahwa yang dia lakukan salahh; namun dia tidak mau memperbaikinya; Dia berkata :

Jika saya bekerja dengan benar; maka jabatan saya pasti dicopot; karena teman se-profesi disini juga tidak baik; semua manipulator; semua koruptor; akhirnya kami korup bareng-bareng.

5. Syahwat Dan Harta

Didalam Miftah Daar Sa’addah Al-Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan ; bahwasannya banyak manusia yang terhalangi masuk Islam karena syahwat dan harta.

“Tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah (cobaan) yang lebih berat bagi kaum lelaki kecuali fitnah wanita ” [Hr.Bukhori]

6. Cinta kepada keluarga dan karib kerabatnya melebihi cintanya kepada kebenaran.

Sejarah telah mengkhabarkan pada kita bagaimana para salafush sholih saat mereka memegang teguh kebenaran yaitu Al-Islam; mereka berbenturan dengan keluarga; tak jarang mereka meninggalkan keluarga mereka yang kaya raya; berpangkat dan berkedudukan tinggi ; disebabkan orang tuanya musyrik.

Namun bukan berarti ketika keluarga kita yang sudah muslim itu ; kita memiliki kekeliruan lalu kita KAFIRKAN; bentrok dan dan bermusuhan dengan alasan kita siap membela kebenaran dengan resiko apapun; menyikapi keluarga muslim yang keliru karena tak memahami agama (bodoh) berbeda dengan keluarga KAFIR / MUSYRIK ; Allah telah berfirman :

“Serulah mereka kepada jalan Rabb-Mu dengan hikmah dengan nasehat yang baik dan berdebatlah dengan cara yang lebih baik” [An-Nahl : 125]

7. Lebih mencintai negeri dan tanah air daripada kebenaran .

Diantara halnya adalah lantaran sebuah hadits lemah :

“Cinta Tanah Air Merupakan Bagian dari Iman”

[Silsilah Hadits Dhoif & Maudhu' - syaikh Albany]

8. Cinta Nenek moyang melebihi cintanya kepada kebenaran.

Terkadang ada sebagian kaum muslimin; yang saat kita berikan hujjah dari Al-Qur’an dan sunnah; mereka berkelit dengan berkata :

“Aduh kamu ini aneh; lihatlah bapak dan nenek moyang kita sudah melakukannya sejak dulu; jadi kagak usah dimasalahkan deh; ini tradisi kita; ini adat dan kebiasaan kita; siapa yang akan mencintainya jika bukan kita para pewarisnya ?”

Telah hadir bersama kita kisah dari paman beliau shollallahu ‘alaihi wasallam yaitu Abu Thalib yang diakhir hayatnya memilih agama nenek moyangnya ketimbang Islam.

9. Adanya permusuhan antara seseorang dengan yang lai kemudian musuhnya itu ternyata mengikuti kebenaran.

Disebabkan adanya permusuhan ini; seseorang terkadang menjadi malas hadir di majelis ilmu; dengan alasan malas bertemu dengan musuhnya; maka sebab ini sungguh merupakan tabir hidayah buat kita;

10. Penghalang berupa adat istiadat.

Seseorang yang sejak kecil terbiasa dengan ajaran yang bersumber dari tradisi adat istiadat sehingga mendarah daging; maka ini merupakan penghalang hidayah baginya; dan dia wajib menundukkan hatinya kepada kebenaran itu;

Maka jadikanlah Al-Qur’an dan sunnah serta pemahaman para sahabatnya sebagai standar; jangan menjadikan kebenaran itu dengan tolok ukur kiayi kita; ustadz kita; banyaknya pelakunya. karena itu bukan standar; dan jangan berkata didalam agama ini :

“Mmmmhhhmmm ….sepertinya sih kalau menurut saya … “

Islam tidak membutuhkan menurut kita; islam tak memerlukan pendapat kita; adapun untuk para mujtahid ada syarat yang berlaku atas mereka; perbuatan seseorang baik dia ulama; kiayi; ustadz; da’i bukanlah hujjah; hujjah adalah Al-Qur’an; sunnah dan pemahamanan para sahabat atas agama ini (ijmanya).. dilain itu mereka bisa benar dan bisa salah;

Imam Ibnul Qoyyim berkata didalam kitabnya Ighatsatul Lahafan :

“Orang yang cermat pandangannya dan benar imannya tidak akan merasa gelisah karena sedikitnya kawan dan bahkan tiadanya kawan jika hatinya telah merasa berteman dengan generasi pertama dari orang-orang yang diberikan nikmat.

Wallahu ‘alam

Diringkas oleh Abah Abu Iram Al-Atsary dari Buku 10 Tabir Hidayah buah karya Ustadzuna Fariq Gasim Anuz terbitan Pustaka Imam Syafi’i

keterangan : Boleh dicopas dan disebarkan seluas-luasnya.

About these ads

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda; Dan Silahkan Masukkan Komentar / Pertanyaan Anda Disini : Perhatikan adab berikut! Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula. Allah meridhai kalian bila kalian: (1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah Dan Allah membenci kalian bila kalian: (1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim no. 1715) Admin paviliyunkeluarga.wordpress.com berhak untuk tidak memunculkan komentar yang tidak sesuai dengan adab di atas. Perlu anda ketahui: Komentar yang anda kirimkan akan dimoderasi oleh admin terlebih dahulu. Komentar anda yang muncul setelah klik tombol "KIRIM" hanyalah sekedar preview yang hanya muncul di komputer yang anda pakai, namun sebenarnya belum muncul

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: